Sipedas

Sipedas adalah Sistem Penyediaan Data Strategis dari Direktorat Jenderal Hortikultura.

Latar Belakang

  1. Kebutuhan akan data sangat dinamis tidak efisien dengan cara manual
  2. Komoditas Hortikultura yang komplek membutuhkan pendataan yang fleksibel
  3. Petugas Pusat - Provinsi - Kabupaten - Kecamatan dapat berkolaborasi

Apa yang baru

  1. Petugas pusat dapat memantau pada beberapa daerah yang berbeda.
    Pejabat pusat memiliki tanggung jawab memantau di beberapa wilayah dengan peran masing-masing, misal: Pejabat A memiliki tanggung jawab memantau 1 provinsi dan 4 kabupaten sentra. Dari 4 kabupaten tersebut ternyata 2 kabupaten berada di wilayah provinsi yang menjadi tanggungjawabnya dan 2 kabupaten lain diluar provinsi yang menjadi tanggung jawabnya.
    Bagaimana dengan petugas daerah?
    Kemungkinan besar mengalami hal yang sama dimana satu orang memiliki beberapa daerah pantauan yang berbeda.
    Solusi: Peran user fleksibel dan dapat diubah dengan cara sederhana
    Seorang petugas dimungkinkan memiliki peran ganda yang dikontrol oleh administrator pada levelnya dan superadministrator pada level diatasnya
  2. Wilayah yang cepat berubah
    Dengan adanya otonomi maka pemekaran wilayah berlangsung sangat cepat.
    Solusi: Kode wilayah dan harus terintegrasi dengan sistem kode wilayah yang tersedia
    Dalam hal ini kode yang digunakan adalah BPS. Sistem harus dapat melakukan sinkronisasi data wilayah secara mudah. Sistem menyediakan cara input data wilayah secara manual sesuai dengan kewenangannya
  3. Jenis Komoditas
    Saat ini ketika bicara pisang maka semua macam pisang masuk dalam kategori yang sama, tidak peduli dengan pisang macam apa.
    Solusi: Kode tanaman harus fleksibel dengan mampu mengadopsi kemajemukan
    Dalam hal ini kode tanaman dilakukan perombakan dari kode statis dengan identitas unik, menjadi kode yang fleksibel. Kami melakukan riset lama untuk melakukan perubahan ini. Dengan mengadopsi sistem kode HS, kami melakukan pengkodean tanaman melalui teknik mneumonik metode akronim. Metode akronim ini telah digunakan dalam pengkodean tanaman internasional tapi berbasis nama latin. Karena dalam pendataan komoditas nama latin tidak familiar maka tidak digunakan nama latin, tetapi digunakan akronim nama dalam bahasa indonesia.
    CBB adalah cabai besar, CBBKR adalah Cabai Besar Keriting. NKA adalah nangka, dalam pendataan saat ini nangka masuk dalam buah, tetapi di lapangan, banyak yang dipetik untuk sayuran, nangka yang dipetik muda tidak masuk dalam SPH, tetapi dalam kenyataanya nangka dalam bentuk sayuran produksinya besar.
  4. Komoditas pada wilayah berbeda
    Saat ini formulir pendataan berlaku sama untuk seluruh wilayah nusantara dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai Pulau Rote berlaku sama. Contoh Didalamnya ada kentang dan wortel yang hanya cocok di daerah dataran tinggi.
    Kata kunci: Komoditas pada wilayah harus fkeksibel menyesuaikan dengan potensi yang ada
    Daerah dapat mengelola daftar komoditas yang berbeda sesuai potensi lokal.
    Contoh:
    Nasional: Komoditas wajib ada 3 yaitu Bawang merah, Cabai Besar, Cabai Rawit.
    Jabar: (3) Nasional + (2) provinsi (Wortel + Tomat)
    Garut: (3) Nasional + (2) provinsi + (Sawi + kacang Panjang)
    Sukabumi: (3) Nasional + (2) provinsi + (Kentang + Kubis)

Pengembangan

Riwayat pengembangan

  • Versi 2.0
    Perubahan signifikan pada sistem
  • Versi 1.1
    Perbaikan pada rekap data
  • Versi 1.0
    Kebutuhan data 3 komoditas strategis (Bawang merah, Cabai, Bawang) hortikultura.
    Merupakan produk perubahan diklat pim Sdr Hanang Dwi Atmojo

Road Map

Sudah berjalan

  1. Penyusunan Database Wilayah
    Studi database wilayah dari mfdonline.bps.go.id
  2. Studi pengkodean tanaman
    1. Studi hirarki kode pada Kode HS. Kode HS disusun untuk menetapkan tarif.
    2. Studi pengkodean tanaman yang ada pada Pusdatin. Kode tanaman dalam bentuk angka.
    3. Studi pengkodean internasional pada International Standard Industrial Classification of All Economic Activities (ISIC). Kode produk memiliki hirarki.
    4. Studi pengkodean tanaman yang ada di BPS(Badan Pusat Statistik). Kode tanaman menggunakan angka dengan hirarki terstruktur mirip ISIC, dan kode HS.
    5. Studi pengkodean tanaman di USDA (United States Department of Agriculture). Kode tanaman berupa huruf 4-5 dengan dasar nama latin.
    6. Akhirnya disusun kode berbasis nama dalam bahasa Indonesia.
  3. Penyusunan hirarki user dan wilayah dalam sistem(RBAC)
    1. Penyusunan hirarki peran user dalam sistem dan kewenangannya, ini adalah riset yang terberat.
    2. Wilayah memiliki hirarki dari pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan, dan desa.
  4. Implementasi sistem dasar sebagai framework pengembangan sistem
    1. Penggunaan Yii2 varian nenad-zivkovic sebagai framework dasar.
    2. Fitur GII (a magical tool) yang sangat membantu dalam pembangunan aplikasi menghasilkan.
    3. Pemisahan model dasar dan model pengembangan, menggunakan yii2-enhanced-gii Yohanes Candrajaya.
    4. Penggunaan modul-modul dari Kartik Visweswaran
    5. Penggunaan modul-modul dari PHPexcel
  5. Migrasi data sipedas lama mysql ke database sipedas baru postgresql
  6. Launching Online

Saat ini

  1. Pengembangan modul-modul sebagai akibat perpindahan database sistem
  2. Pengembangan modul Tabulasi
  3. Pengembangan modul Grafik

Masa mendatang

  1. Studi tentang Open Layer sebagai mesin peta
  2. Integrasi Openlayer dalam sistem sehingga dapat menampilkan dalam bentuk peta
  3. Survey Produktivitas petik panen
  4. Penyusunan sistem peramalan berdasarkan luas tanam
    Sebagaian riset sudah dilakukan, hasilnya mampu memprediksi produksi dari luas tanam
  5. Penyusunan dashboard dan Decission Support System

Without science, it's just fiction.

waku_lama[0.053544998168945]